Sebelum take-off, di Pontianak, rekan saya bertanya, apa kira-kira ketetapan dari Mabes Polri. Sebelum saya mengutarakan pendapat, seorang pengacara menimbang, bahwa ada peluang Ahok lepas dari jerat tersangka. Alasannya kurang lebih sama dengan sejumlah saksi atau ahli yang menunjukkan bahwa kalimat yang dikeluarkan Ahok di Kepulauan Seribu tidak mengena penodaan agama.
Saya berpendapat bahwa Ahok akan jadi tersangka. Alasannya tampak dari safari keliling Presiden RI Joko Widodo ke TNI dan tokoh ulama. Hal ini tak lazim. Maka, ternyata apa yang saya duga, menjadi kenyataan.
***
Sepanjang jalan Soeta sampai ke Blok M, paparan media seputar putusan buat Ahok. Siaran pun kelap-kelip, tergantung penerimaan pemancar Damri. Saya tertidur. Namun saat berpindah ke Bajaj menuju Fave Hotel, saya bertanya dengan sang sopir. Bagaimana Pilkada DKI Pak? Apakah ditetapkannya Ahok sebagai tersangka menggerus popularitas dan peluang keterpilihannya (elektabilitasnya)?
Sang sopir mengatakan, Ahok terbukti baik memimpin Jakarta. Namun dia yang mengaku awam, dari tidak tahu agama, menjadi lebih paham ajaran agama.
Sopir ini warga DKI. Dia punya hak pilih dan akan memilih. Saya tanyakan, siapa yang akan dia pilih? “Pokoknya bukan Ahok Pak.”
Ahok Jadi Tersangka dan Bincang Ringan Sepanjang Jalan ke DKI
