Berdasarkan saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara menghadiri silaturahmi yang diberi judul ‘Halal Bihalal’. Pada akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja. Hal ini dapat dikatakan sebagai awal baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.
Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal Bihalal. Melihat kebiasaan di Istana Negara ini maka kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas dan menjadi tradisi warga Indonesia, khususnya bagi warga muslim. Jadilah Halal Bihalal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.
Ketika umat muslim menghabiskan 2-3 hari awal Idul Fitri bersama keluarga, maka setelahnya demi menjaga tali silahturahmi dengan yang lain, diadakanlah Halal Bihalal. Ketika usai libur dan kembali ke realita kerja, pihak kantor akan mengadakacara itu. Begitu pula dengan teman-teman yang kembali dari kampung halaman untuk kuliah cenderung akan mengadakannya sebagai perayaan Idul Fitri bersama. Tidak bersifat ekslusif atau hanya dikhususkan bagi umat Islam tetapi terbuka bagi siapa saja yang merasa ingin menjalin tali silahturahmi.
