by Mili
Minggu (16/6) itu, seperti biasa saya pergi ke Kampoeng English Poernama untuk menghadiri rapat. Sembari melanjutkan rapat yang sudah dimulai, bukannya marah atau menggerutu, mereka menyambut kedatanganku yang telat ini dengan ceria. Terukir senyuman atau lontaran lelucon yang membuat perasaan ini nyaman. Mereka mengerti bahwa saya juga perlu waktu untuk memenuhi kewajiban sebagai manusia, pergi ke rumah Bapa (Gereja) untuk memuji dan melayani-Nya.
Menjalani rapat dengan perut kosong memang hal yang memecah konsentrasi pikiran. Ketika jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, seseorang mengajak memesan makanan tetapi dipotong oleh yang lain, “kita makan di belakang aja, nanti kan ada Halal Bihalal!” Akhirnya kami mengurungkan niat dan memutuskan untuk menunggu lagi.
“Halal Bihalal,” katanya. Saya hanya bisa mengangguk dan mengikuti saja walau pun sebenarnya tidak mengetahui jelas acara seperti apakah itu. Ini pertama kalinya saya mengikuti kegiatan tersebut. Bahkan seumur hidup, kata itu pertama kali saya dengar ketika memasuki bangku perkuliahan di universitas negeri. Sebelumnya ketika masih duduk di bangku sekolah swasta, kata itu tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran saya. Jadi, persepsi awal yang saya ambil adalah bahwa acara ini diadakan oleh mereka yang beragama Islam.
