Di tempat terpisah di depan bagian akademik pada pukul 17.24 berlangsung jumpa pers dari kalangan mahasiswa yang berdemo. Mereka bersatu dari kalangan Badan Eksekutif Mahasiswa, MPM, dan IAFT. Poin yang mereka ungkapkan adalah, pertama, bahwa aksi demo sejak 26/9/16 berfokus pada tuntutan mundur Dekan lantaran tidak profesional mengelola manajemen kampus. Ketua MPM mencontohkan dengan proses skorsing kepada Ketua BEM tidak prosedural di mana Ketua BEM tidak dipanggil dan disidang terlebih dahulu. “Tidak adil,” tegasnya. Ketua MPM juga mengurai kronologis sejak Surat Keputusan PMB yang menyebutkan kegiatan berlangsung empat hari.
“Kami menghadap Dekan dan diarahkan kepada Pudek III Pak Yusuf. Ada dua laporan. Intinya kami bertanya apa bukti-bukti laporan mereka bahwa terjadi kekerasan. Tidak diperlihatkan. Namun mereka berjanji akan memberikan laporan lengkap.” Mahasiswa punya catatan kritis yang panjang secara kronologis sehingga berujung kepada tuntutan mundur Dekan. Namun untuk itu, massa mahasiswa siap membuka segel pintu kelas secara simbolis. Pertanda perkuliahan sudah dapat dimulai.
Hal senada diungkapkan mahasiswa lainnya kepada Teraju.Id. “Kami dengar dari kawan seangkatan di FT Untan, bahwa kemungkinan kuliah sudah bisa dimulai pada Senin, jika sudah ada jalan keluar masalah tuntutan massa mahasiswa,” demikian dikemukakan anggota Kohati HMI. (Difa/Deki/Guntur/Gheby)

