“TNI-Polri lahir dari sebuah perjuangan rakyat dan bangsa untuk merdeka. TNI-Polri, dengan rupa-rupa nama pada jaman perjuangan kemerdekaan dahulu, berdiri di sekitar negara yang merdeka pada 17 Agustus 1945. Yang kita rasakan adalah kebanggaan yang tinggi terlahir sebagai bagian dari bhayangkara negara, pengawal negara.”
Dijelaskan Didi, di tengah dinamika politik, sosial budaya dan keamanan dalam negeri dewasa ini, TNI-Polri dipercaya sebagai dua pilar sekaligus benteng NKRI yang berdiri kokoh. Banyak upaya dari musuh-musuh negara untuk menghancurkan NKRI, diantaranya dengan mencoba meruntuhkan dua pilar kuatnya. Mereka tidak akan pernah berhasil.
“Karena TNI-Polri memiliki doktrin yang sama: tegak lurus hanya untuk merah-putih dan NKRI!”
TNI-Polri adalah sebaik-baiknya praktik bhinneka tunggal ika. Hanya dalam organisasi TNI-Polri-lah, terakomodasi perbedaan suku, agama, ras, dan asal-usul.
“Kita tidak pernah mempertanyakan dari suku atau agama apa seorang prajurit atau bhayangkara. Yang kita tahu adalah kita semua sama menjadi abdi utama bagi nusa dan bangsa. Bahkan untuk perwira, kita diajarkan untuk mengenal nusantara dengan penempatan tugas yang berpindah-pindah provinsi. Mengenal lebih banyak daerah dan saudara dari berbagai suku dan agama.”
