
Dalam bahasa Melayu kata tun diartikan juga sebagai kiasan atau perumpamaan dengan maksud mengandung unsur-unsur pepatah dan peribahasa. Hal ini dapat dilacak dalam Kamus Besar Melayu Nusantara (2003:1981) yang menjelaskan ciri-ciri pantun terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk (pembayang/sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi/maksud. Selain itu, ada juga pengertian pantun yang menjelaskan pantun sejenis peribahasa yang digunakan sebagai sindiran.
Pantun merupakan milik masyarakat Melayu asli. Jika Winstedt pernah menyatakan pantun tercipta berdasarkan seloka India dalam bentuk empat larik atau dari puisi klasik Cina “Syiching” tidaklah dapat diterima. Pantun sebagaimana genre puisi tradisional Melayu yang lain, mempunyai jalur dan warnanya yang tersendiri, berbeda dengan puisi dari India, Cina, Arab, atau Parsi.
Menurut Harun Mat Piah (1989) pantun telah wujud dalam tradisi lisan Nusantara, sekurang-kurangnya dalam bentuk prototipe sebelum atau sezaman dengan pengaruh Hindu, atau sebelum kedatangan agama Islam.
