Begitu gubernur era-80-an itu turun dari podium, OSO pun santai seraya nyelonong memencet “bigik” sang gubernur sehingga pria itu “tepanjat” seraya bertanya apa-apaan ini? Muka orang nomor satu di Kalbar itu pun merona merah. Tapi OSO memang OSO. Ia tidak kena damprat lantaran sang gubernur tahu “kenakalan” iseng OSO dan latar belakang OSO yang merupakan Raja Pasar Tjiplak. Sumber teraju geleng-geleng kepala.
Itu kisah unik memang. Dan OSO dalam pidatonya mengaku telah matang dan pensiun dengan kenakalan semacam itu. Kecuali hanya muncul dalam pidato mengenang masa lalu seraya memberikan nasihat sekaligus motivasi bagi generasi Kalbar agar maju, lebih dari sekedar berani. OSO bahkan tampak semakin religius dengan membangun Masjid Oesman Al-Khair yang mewah di pinggiran laut Sukadana, tanah kelahirannya. “Jangan sombong dan lupa kampung halaman, walaupun tempat kelahiran kita miskin,” imbuhnya.
