
Mas Andreas ada di Pontianak? Begitu saya tersentak melihat postingannya di FaceBook. Beliau terbang setelah liputan panjang di Timor Leste. Berlebaran ke kampung halaman istri, Sapariah Saturi. Kebetulan kami sama sama wartawan Equator, anak Pontianak Post, cucu Jawa Pos dan sama sama kursus Jurnalisme Sastrawi yang diampu Mas AH serta Prof Janet Steele di Tempo, Jakarta. Seguru-seilmu. Hanya kemudian Ari sapaannya berjodoh sama Mas AH. Maka saban tahun mudik lebaran ke Bumi khaTULIStiwa. Sekaligus kami manfaatkan untuk berdiskusi ria. Sebab selalu kaya mozaik dan insight.
Saat kontak terbesit “menculik” Mas AH ke komunitas kami buat diskusi. Namun bentrok safar ke Singkawang. Syukur sudah ada aktivis lain, sohib, Subro, budayawan Madura yang ambil inisiatif menggelar diskusi tematik berat: International Jurisdiction. Sesuatu yang strategis bagi penegakan Hak Azasi Manusia. Terutama ketika negara abai pada HAM.
Sementara nafsu menggali ilmu dari suhu terobati di La Gramma.
*
“Bolehkah saya promosi?” Mas AH bertanya. Tentu kawanan yang melingkari meja dengan menu kopi dan “bake” khas La Gramma mengangguk. Setuju.
