Berita

Lebaran Tengkawang Hingga Sidney dan Timor Leste Dibalut Sastra Lisan

Lebaran Tengkawang Hingga Sidney dan Timor Leste Dibalut Sastra Lisan
Suasana ngopi dan diskusi di La Gramma kawasan Gajahmada Pontianak

Pak Martin dan Bu Sakti mengelola lahan 20-30 ha di kawasan Ambawang. Pondoknya artistik. Uskup Agung pernah mengunjungi kebunnya. Ia anti sawit dan pro penyelamatan hutan. Maka 20-30 ha lahan miliknya dirawat sebagai hutan. Suatu saat kelak, saya yakin hutan ini akan jadi pusat studi kehutanan yang dijaga dengan hati yang setia menjaga kekayaan anugerah Tuhan yang tiada ada bandingan manfaatnya itu. Ada botani, hidrologi, sampai budaya…

Hanya saja ada masalah agraria di dalamnya. Di mana sebenarnya pemerintah semestinya berterimakasih kepada rakyat semacam Pak Martin dan Bu Sakti yang mau “turun gunung” mengolah lahan dengan kedua tangannya sendiri.

Keduanya pilih berdikari. Anaknya seorang kuliah di Belanda. Ambil ilmu hukum. Kedua anaknya lagi pilih sekolah di alam seperti kedua orang tuanya. Tak ingin ke politik. Tak ingin menjadi orang lain, tapi jadi diri sendiri yang berdikari dan membuka lapangan pekerjaan sesuai literasi yang dibaca. Baik buku maupun alam. Hebats. Mantaps. Jarang jarang ada generasi semacam ini.

Kami buat janji. Suatu saat akan ke hutan penjagaan Pak Martin dan Bu Sakti di Ambawang. Sosok yang istimewa. Pernah diterima oleh Paus di Vatican. Roma. Italia.

*

Kisah lingkungan hidup menyoal kepadatan manusia dan cara-caranya mengelola kehidupan.