Warga lainnya dari kesultanan usul agar buku ini dapat dicetak dengan kerjasama antarlembaga. Selain pemerintah, juga kesultanan Nusantara. Selain itu tentu pihak swasta yang mau berpartisipasi. “Udahlah Bang, open PO jak pon oke,” kata warga lainnya. Open PO adalah istilah pasar untuk langsung pesan cetak terbatas. Memang buku ini sekarang sudah habis di pasaran. Bahkan ketiga penulisnya mengaku sudah tidak pegang buku cetaknya melainkan tersisa versi lunak di laptop masing-masing. (kan)
Baca Juga:Club Menulis IAIN dan Anggota Baru
