Berita

Mudahnya Membuat Tambak Udang di Dabong (3)

Mudahnya Membuat Tambak Udang di Dabong (3)

teraju.id, Dabong— Pagi, kami kembali ke posko. Kali ini, saya menumpang Muhlis, mahasiswa yang mengikuti panen malam itu, menggunakan sepeda motor. Kami melalui jalan darat.

Motor matic kami melintasi tanggul-tanggul tambak. Kiri kanan seluas beberapa lapangan bola tambak-tambak warga Dabong terbentang. Tambak itu digali dengan alat-alat berat, sehingga secara keseluruhan terlihat rapi.

Dari tambak ke kampung memang dekat. Tidak sampai lima menit. Saya pikir, jalan kaki pun bisa. Mungkin jarak dari ujung tambak ke ujung kampung hanya 1,5 atau 2 kilometer. Jarak yang dekat ini membantu saya memahami mengapa warga sempat “merasa sangat heran” ketika dahulu mereka pernah  dipersalahkan saat mulai membuat tambak. Mereka sempat dianggap salah karena Dabong termasuk dalam wilayah hutan lindung. Hutan lindung yang tidak boleh didayagunakan. Padahal keputusan menjadikan hutan ini sebagai wilayah hutan lindung muncul beberapa waktu lalu, setelah ratusan tahun lalu warga tinggal di sini, sejak generasi Nakhoda M. Saleh, 7 generasi lalu. Penetapan itu katanya tanpa kordinasi dengan masyarakat setempat.

Setelah istirahat cukup lama di posko Kelompok 36 di tengah Desa Dabong, saya mengajak mahasiswa berjalan ke ujung kampung Dabong di wilayah pelabuhan dan “pasar”. Saya ingin mengajak mahasiswa berkenalan dengan banyak orang.