Sebagai salah seorang returnee, Anies merasakan terjadinya akumulasi pengalaman kultural yang luar biasa pada dirinya, maupun figur-figur sukses alumni AFS lainnya. Sesuatu pengalaman yang tidak dimiliki organisasi lainnya di Indonesia. AFS, menurutnya telah menjadi eskalator yang luar biasa untuk kemajuan diri dan profesionalisme setiap peserta program pertukaran.
Anies mengikuti seleksi di Binabud Chapter Jogjakarta pada tahun 1987. Saat itu dia merasakan perbedaan alias gap antara Jogja dengan Jakarta masih kuat. Tetapi dengan mengikuti program AFS di AS, secara alamiah dia merasakan semakin kental sebagai warga Jogja, warga Indonesia, bahkan warga internasional-dunia. “Global citinzenship. Kita tertantang turut berkiprah,” tegasnya.
Di era millenial diulas Anies, pengalaman interaktif langsung sangat penting. Kultur digital menurut Anies memang bisa menyatukan, tetapi juga bisa mengotak-kotakkan. Oleh karena itu pengalaman interaksi langsung justru semakin diperlukan. Karena komunikasi langsung membuat manusia lebih manusiawi.
Peserta program Binabud memang diarahkan menjadi pemimpin masa depan yang paham akan kemajemukan. Semua digembleng menjadi pemimpin dan melakukan perubahan ke arah peningkatan harkat, martabat, dan kesejahteraan umat manusia.
