in

Prof Dr HM Nuh Buka Rakornas Wakaf Indonesia

IMG 20200914 WA0022

teraju.id, TNN – Mantan Mendikbud yang juga mantan Ketua Dewan Pers Indonesia, Prof Dr HM Nuh yang kini Ketua Umum Badan Wakaf Indonesia (BWI) membuka rapat kerja nasional BWI dengan 456 peserta. Tema yang diangkat adalah wakaf produktif, Senin, 14/9/2020. Rakernas berlangsung sejak pukul 08.00 dan akan berakhir sore hari sekira pukul 16.00.

Nuh dalam rakernas dalam jaringan (daring) mengatakan, bahwa dalam rakernas ini diluncurkan wakaf produktif uang. “Nanti sore akan diluncurkan oleh Bapak Wakil Presiden RI,” unkapnya seraya menyatakan potensi wakaf ini turut menunaikan janji kemerdekaan berupa melindungi seluruh rakyat Indonesia, ikut memajukan kesejahteraan umum, serta mencedaskan kehidupan bangsa.

Tiga modal utama hadir di depan mata. Bonus demografi. Bonus digital. Dan bonus nilai-nilai kearifan Bangsa Indonesia.

“Masa produktif ini sangat dahsyat. Mari kita sambut dengan kualitas, sehingga BWI bersama masyarakat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia.”

Bonus digital, sangat sayang, jika tidak diambil, sebagaimana Idul Fitri sangat sayang jika tidak diambil bonus kesucian. Begitupula Ramadhan dengan bonus amaliahnya. Peradaban digital juga demikian adanya. “Teknologi digital jadi mesin transmormasi kegiatan wakaf produktif. Ditambah nilai-nilai NKRI.”

Baca Juga:  Sinyal Bahwa Nyala Literasi itu Masih Ada

Nuh mengajak padukan IQ, EQ dan ESQ. Bahkan kini ditambah dengan Digital Question. “Jadikan Indonesia sebagai tempat lahir dan mati, sangat tidak sopan dan santun jika tidak mewujudkan Indonesia Question. 100 tahun Indonesia Merdeka dalam masa depan emas. Lakukan transformasi dari saya, kami dan kita.”

Sumber dari Nabi SAW adalah zakat yang sifatnya wajib. Wajib sesuai hisab sehingga bisa dibagikan habis. Ada 8 asnab penerimanya. Ada juga infak. Penerima manfaat bisa fleksibel, serta “Islam” punya wakaf. Sifatnya bebas, tidak harus kaya. “Siapapun bisa berwakaf. Kekal. Manfaatnya sangat fleksibel sesuai akad yang telah ditetapkan.”

Umat mesti bisa mensinergikan antara zakat, infak, sedekah dengan wakaf. Ada dimensi strategis dalam wakaf. Dimensi keyakinan. Dimensi mindset untuk hidup produktif. Juga aksi wakaf pasti berdampak positif di mana ikatan sosial semakin baik, di mana satu sama lainnya saling memperkuat. “Yumbuhkan kesadaran kolektif. Bangun budaya memberi.”

Budaya paling tinggi ada memberi. Di bawahnya penerima. Di bawahnya lagi meminta. Level terendah adalah peminta-minta. “Memberi adalah martabat hidup,” kata Nuh yang alumni ilmu kimia di Perancis.

Baca Juga:  Hari ini Peluncuran Buku Ramadan dan Keragaman

Ketua BWI menyebutkan Rumah Sakit di Serang dibangun atas dana wakaf. “Bayangkan jika bertumbuh proyek nasional dari wakaf produktif,” ungkapnya.(kan)

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

IMG 20200914 091746 610

FUAD IAIN DAN POLNEP PONTIANAKK PEMBERDAYAAN EKONOMI DI DESA PIANTUS, SAMBAS

IMG 20200914 WA0039

BWI Batam Miliki Rumah Potong–Modal 700 Juta dalam 4 Tahun 3 Miliar