Kami membakar ayam, memasak nasi, membakar sosis, juga jagung, pastinya Pacet yang masih meneror kami. Kata Pak Nyawib dulu, kalo membakar Pacet maka akan terdengar suara aneh, makhluk halus maksudnya tapi sekarang gak lagi jadi, yaa aman-aman saja ketika kami membakarnya. Semakin malam semakin dingin, tentu saja kami gak bisa tidur dengan nyaman, gak ada nyamuk sih, suara jangkrik juga gak ada, sunyi dari keramaian, yang ada hanya suara berisiknya air terjun yang sangat dekat dengan kami, ah gak kebayang gimana besok pagi segarnya bangun-bangun udah di depan air terjun. Jam 1, jam 2, jam 3 kami gak mampu lagi menahan dingin jadi dengan sigap menghidupkan kembali api unggun dan membuat air kopi.
Tak terasa hari semakin siang, waktunya kami menikmati air terjun yang bertingkat dan sangat tinggi ini, di bagian bawah mungkin sekitar 3 meter gitulah medannya untuk turun ke bawah sangat luar biasa basah seluruh tubuh sudah pasti tapi sangat terbayarkan dengan keindahanya.
