Hampir terbiasa dengan Pacet, ada suara air terjun yang tidak terlalu bergemuruh sih, pikir saya kami sebentar lagi tiba, ternyata tidak, di sana memang ada air terjun namanya Jembatan Batu cukuplah untuk menambah air di dalam botol kami.
Di perjalanan saya gak mau menyia-nyiakan tour guide kami, jadi meskipun harus berlari-lari untuk menyeimbangi langkahnya saya cukup puas mendapat sedikit pengalaman dari beliau, ia bilang pernah sesat 2 malam di hutan tersebut sendirian. Terus yang lebih menarik lagi beliau pernah mengantar peneliti dari Jepang, 2 orang, dari Jerman 7 orang dan 4 orang IPB Bogor. Mereka meneliti Angrek, Burung Enggang dan banyak lagi, itu pada tahun 2016. Oh iya ketika saya bertanya para turis itu mengunakan bahasa apa, Pak Nyawib bilang mereka mengunakan Bahasa Mandarin, dan yang lebih mengejutkan Pak Nyawibnya sendiri bisa berbahasa tersebut, hebat nih si bapak.
Hampir Magrib, saya orang pertama loh dari anggota yang sampai di tengah-tengah Riam Kuweg, dingiiiin… bisa-bisa saya terserang hipotermia. Tapi gak juga sih kan ada penghangat badan Sleeping bag hehe.
Pukul 19 cuaca semakin mendingin, tenda kami sudah berdiri, saya gak bisa jauh dari api unggun maklum gak punya daging jadi dinginnya menusuk langsung ke tulang.
