“Kami mendapat kabar bahwa beliau sesak napas ketika mengendarai mobil klinik. Malam itu dia mengantarkan obat buat pasien. Beruntung kaca jendela mobil dia buka sehingga ditolong oleh juru parkir. Namun ketika kami meluncur ke RSP Untan, beliau sudah menghembuskan napas terakhirnya,” kenang Djunaini didampingi istri seraya menyepakati bahwa kepergian Bang Bong begitu mudahnya. “Insya Allah husnul khatimah, karena sebelum membawakan obat buat pasien, beliau sudah shalat Isya dan kegiatannya di akhir hayat amat penuh membantu kesembuhan orang lain.”
Dalam kesaksian pria yang akrab disapa Bang Djun ini, bahwa Bang Bong sehari sebelumnya tampak sehat walafiat tak kurang sesuatu apapun. Dia wira-wiri dan menjalin kontak dengan banyak pihak. “Rupanya telepon-telepon beliau itu merupakan tanda bahwa dia akan berpulang. Siapa-siapa saja yang ditelepon itu merupakan wasiat,” timpal Bang Djun yang merupakan wartawan super-senior di Kalbar.
Salah seorang yang mendapat telepon Bang Bong adalah komisioner KPU Provinsi Kalbar, Viryan Azis, SE, MM. “Saya ditelepon beliau dalam rangka dukungan dan doa agar saya sukses menjalani ujian sebagai komisioner KPU Pusat,” ungkap Viryan.

