Karena itu, manakala sebuah bangsa terlalu banyak dipenuhi kerumunan marah (angry crowd) di jalan-jalan di setiap kota, kita pun hanya dapat berdoa semoga Tuhan masih sayang pada bangsa ini. Tak ada orang yang bisa menjamin kerumunan marah itu akan tetap bisa diam, mampu mengontrol diri. Siapa yang bisa menahan emosi pada kerumunan yang emosinya dipupuk, dibangkitkan kemarahannya setiap hari? Karena itu, bila kita ingin mencegah kehancuran negeri ini, kurangi kerumunan marah, cegah jangan terlalu banyak aksi jalanan yang meluapkan emosi, dan segera transformasikan ketidak-puasan dan kemarahan ke dalam dialog dan diskusi dingin yang lebih berorientasi pada menyelesaikan masalah daripada melampiaskan amarah. Kita perlu coba bangun kembali cara-cara yang melegakan hati, membangun hubungan kembali untuk saling sayang menyayangi. Rasul SAW bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga kecuali beriman. (Tapi kalian) tidak termasuk beriman kecuali saling sayang menyayangi. Inginkah aku tunjukkan pada kalian sesuatu yang bila kalian kerjakan dapat mempererat kasih sayang? Sebarkan salam (kedamaian) di antara kalian.” (Hr. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibn Majah).
#iPras 2017
