Saat itu, saya diberikan kesempatan untuk membersamai Sang Kyai Besar di rumahnya. Oleh Gurunda Ustaz Luqmanulhakim, saya juga diberikan kesempatan untuk menyentuh tangan lembut penuh karya hebat Sang Kyai Besar, juga menatap matanya yang teduh dan tajam, serta merasakan tarikan dan hembusan nafasnya yang lembut penuh wibawa.
Hanya itu saja yang bisa saya lakukan. Saya tak bisa bertukar sapa dengan beliau. Saya juga tak bisa bertukar kata untuk menyerap kejernihan pemikirannya. Karena pada saat itu KH. Abdullah Syukri baru saja menjalani operasi besar di bagian kepala.
Namun, saya merasa itu saja sudah cukup bagi saya. Karena saya telah berkesempatan untuk memotret Sang Kyai Besar dalam memori saya dalam jarak yang dekat, dalam jangakauan tarikan nafas.
Potret Sang Kyai Besar itulah yang kemudian selalu saya hidup-hidupkan dalam imajinasi saya. Potret Sang Kyai Besar itu pula yang saya jadikan icon untuk menandai folder besar dalam kapal memori saya demi dapat menjelajahi samudra ilmu yang teramat luas lagi dalam dari Sang Kyai Besar.
