Sultan Hamid II pula menaikkan simbol persatuan Indonesia dengan pohon beringin yang diambil inspirasinya dari taman keraton Jogja. Bahwa kekuatan raja-raja Nusantara adalah esensi persatuan Indonesia dengan cengkeraman seloka Bhinneka Tunggal Ika. Sesuatu yang paling dibutuhkan penguatanya dalam rangka merawat Indonesia Raya kekinian menuju abad teknologi 4.0 atau bahkan 5.0–6.0–7.0–8.0–9.0…
Pak Joko Widodo – para menteri – Dewan Gelar dan pembaca medsos yang mulia, Sultan Hamid II pula yang menaikkan simbol banteng dimana diambil dari Sumatera. Ranah Minang. Ranah pejuang yang hebat di Nusantara bahkan dunia dengan arti kerja keras, gotong royong. Sehingga pas dengan pemikiran Bung Karno di sila keempat: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dus, padi dan kapas, sila kelima, mewakili seluruh kepulauan Indonesia yang subur dengan sandang dan pangan disimbolkan dengan padi dan kapas.
Saya sebagai salah satu dari anak negeri ini sedih dan pedih, kenapa sosok yang menghembuskan napas terakhirnya dalam keadaan sujud–jelas sekali tanda khusnul khatimahnya–keinginan hamba-hamba yang bertakwa seluruhnya di dunia–cucu-cicit Rasulullah Muhammad SAW, pria yang menemani Bung Karno saat menghembuskan napas terakhirnya, laki-laki jenderal yang ikhlas menerima putusan 10 tahun penjara tanpa dia melakukan tindak pidana bisa lolos dari sebuah kata oleh negara yang hebat ini: Pahlawan Nasional.
