Kalau di Indonesia, kritikan-kritikan pedas yang disampaikan lewat tulisan itu, dihentikan oleh pemerintah dengan istilah pemberedelan. Benar, memang pepatah ini, “The pen is mightier than the sword” – Pena memiliki kekuatan yang lebih besar daripada pedang.
Orang yang menulis itu otaknya bekerja keras. Ketika merangkai huruf demi huruf dan kata demi kata serta kalimat demi kalimat, pikirannya aktif. Ia mulai mempelajari padanan kata dan mencari kata-kata dari sumber-sumber yang sahih. Di sinilah seorang penulis “dipaksa” untuk mengekplorasi sebuah kata. “Qui scribit, bis legit” – siapa yang menulis, dia itu membaca dua kali.
Bahkan, dikatakan bahwa dirinya bergumul dengan pustaka. “Doctus cum libro” – menjadi pandai karena buku.
Semakin banyak bergumul dengan pustaka dan menulis, seseorang makin senang menulis, seperti apa yang dikatakan oleh Erasmus (1466 – 1536), “crescit scribendo scribendi studium” – dengan menulis hasrat untuk menulis semakin berkembang. (Minggu, 25 September 2016)
