“Saya paling benci kalau orang besak masih kayak anak-anak. Anak-anak saja tidak sekotor orang besak. Sudah dibilang jangan bawa makanan, masih aja dibawa.Rasanya ingin saya biarkan. Tapi tak enak dilihat mata.”
Ibu itu memakai kata ‘besak’ untuk ‘besar’. Kata yang lazim digunakan di Pontianak. Aku melihat noda cokelat yang sedang digosok-gosok kain pel si ibu.
“Begitulah warga Negara kita, Bu. Kalau tidak begitu, kita sudah maju.” Aku tersenyum tipis. Dalam hati, sebenarnya aku kesal diganggu si ibu ini. Jarang-jarang aku dapat rejeki nomplok membaca koran sebanyak dan selengkap ini.
Kulihat dahi si ibu berkerut. Mungkin dia sedang bertanya, apa hubungannya kebersihan dan kemajuan suatu negara. Atau dia sedang berpikir membandingkan kalau orang-orang dewasa yang kursus di sini, masih bertingkah anak-anak sebab itu negara kita tak pernah maju. Sebab warganya tak pernah dewasa meski sudah tua. Entahlah. Aku tak berani menanyakan apa yang dia pikirkan. Aku bukan facebook.
“Mbak menunggu jemputan?” Dia kembali bertanya setelah aku menyelesaikan tiga judul berita.
“Nggak, Bu. Saya bawa motor sendiri. Saya tak punya mantel. Sebenarnya saya sedang menunggu teman, tetapi bukan jemputan.”
