Cerpen

Mereka yang Kau Beri Nasehat

Mereka yang Kau Beri Nasehat

“Kemarin malam aku harus mengganti semua pakaianku karena basah kuyup. Semuanya. Tidak terkecuali kolor. Demi bertemu denganmu. Tapi kau mengusirku di depan cleaning servis.”

“Kau lebih tua dariku bukan karena umur. Tetapi karena kau cepat marah. Itulah ciri-cirinya.” Aku tersenyum. “Maaf soal kemarin. Terkadang nasehat yang kita sampaikan pada orang lain, lebih pantas untuk diri kita sendiri.”
Dia tersenyum kemudian memberikanku kertas berisikan tugas yang telah selesai dikerjakan. Rupanya Ran bukan tidak menanyakan temannya. Tak mungkin dia menyelesaikan dalam semalam.

“Kau harus mengoreksinya saat ini juga.”

“Akan kulakukan nanti. Di rumah. Ini bisa makan waktu satu sampai dua jam.”

“Tidak. Aku ingin kau melakukannya sekarang. Itulah hukumanmu.”

Aku menarik napas.

“Bang, apa kata orang kalau kita dekat. Adikmu adalah mantanku.”

“Dia sudah menikah. Apa peduli kita?”

“Jadi ini alasanmu kenapa ingin menjadi penulis di media itu?”

“Tadi kau panggil aku Abang. Kenapa tak kau lanjutkan memanggilku begitu?”

Aku diam. Memeriksa kertas tugasnya.

“Masih ingat tembak satu kena dua kan? Kalau aku bisa mewujudkannya, kenapa tidak?”

Aku tetap diam.