“Aku kan sudah bilang. Bagi yang berhalangan hadir, tanyakan tugas pada yang lain. Kalau tak mnegerti, baru tanyakan aku.” Aku mempertegas kalimatku yang sudah kuulang entah berapa kali. “Sekarang kamu pulang saja, besok kalau sudah tanya pada temannya, baru ketemu aku lagi.”
Ran mengangguk. Aku melanjutkan mencari artikel di koran. Tak lagi mengindahkan keberadaannya. Akhirnya Ran pulang tanpa pamit.
Hujan pun mereda. Kukembalikan koran pada tempatnya. Koran yang berisi artikel kuberikan pada si ibu.
Sebelum aku membuka pintu tempat kursus, pesan singkat masuk ke HP-ku.
–Kau tahu kan, rumahku jauh. Malam ini juga HUJAN–
Sms itu dari Ran. Aku tak membalas. Aku pulang.
Besoknya Ran kembali mengirim pesan singkat.
–Aku sudah tanya yang lain tentang tugasnya. Aku tak mengerti semuanya. Nanti malam aku ingin ketemu. Jam 7.30 di warung kopi Mak Wae. Aku traktir–
Aku turuti keinginannya. Kurasa aku sudah terlalu keras pada Ran. Dia tersenyum dari kejauhan melihatku datang.
Aku duduk di depannya. “Bagian mana yang tidak kau mengerti? Tanyaku.
“Kau tahu kan kalau aku lebih tua darimu?”
Aku mengangguk. “Yang mana yang tak kau mengerti?”
Dia menarik napas. “Kita minum dulu. Mau pesan apa? Aku yang traktir.”
“Aku harus segera pulang.”
