Community

Angker

Angker

Mas Bujo bercerita, “aku kerja di Solo tapi tinggal di Karanganyar. Jaraknya cuman 45 menit. Aku ngontrak di sebuah rumah yang cukup besar. Cuman 7 juta untuk 2 tahun.”

“Loh kok murah mas?” Saya bertanya.

“Itu rumah angker, tak ada yang mau mengontrak. Setelah lama kosong, baru saya yang berani menempatinya”

Saya lalu mengalihkan pembicaran. Informasi angkernya sebuah rumah yang akan menjadi tempat saya menginap malam itu bisa menganggu ketenangan untuk beristirahat.

Kami tiba dirumah. Saya diajak masuk ke ruang tengah. Ada TV di sana yang letaknya dekat bawah tangga. Saya lalu meraba dindingnya, ternyata lembab. Tak ada jendela untuk menyinari area sekitar bawah tangga. Di benak saya melintas sebuah anggapan, gelap dan basah. Sebuah area yang ideal untuk didiami hantu.

“Dir, di awal saya masuk sini, ada salip besar di dinding, catnya suram. Akhirnya saya ganti biar lebih cerah dan mengurangi kesan angkernya” kata Mas Bujo.

Lagi-lagi saya mengabaikan topik tentang rumah lalu bertanya seputar kehidupan Mas Bujo selama ini.

“Saya tidur di sini aja mas.” Sembari menunjuk area depan TV dekat bawah tangga.

“Jangan Dir, kamu istrahat di atas saja. Di lantai 2 sudah saya siapkan kamar untuk kamu” Jawab Mas Bujo.