“Gpp Mas, saya tidur di sini saja karena saya suka pipis tengah malam, jadi tidak perlu naik turun tangga.” Saya berkilah.
“Jangan Dir, di sini bau dekat WC. Kalau malam dingin. Nanti kamu tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Kamu diatas aja ya.” Mas Bujo tak kalah sengit menegaskan ajakannya.
Kali ini saya menyerah, enggan berdebat. Sudah syukur saya mau dijamu. Saya lalu menurut dan naik ke atas menaruh barang. Di atas ada dua kamar. Sangat gelap. Keduanya tampak lama kosong dan memang tidak pernah dihuni. Satu kamar dijadikan gudang, satu kamarnya lagi untuk saya.
Di plafon kamar yang akan saya tempati ada lubang. Waduh kenapa nggak ditutup ya. Jujur saja, lubang seperti itu memantik imaji horor dibenak saya. Apalagi sebelum meninggalkan Pontianak, saya sempat menonton Conjuring 2, merekam sosok Valak.
Saya turun ke WC, mandi dan wudhu. Oh iya saya belum sholat Magrib-Isya. Saya menjamak dan sholat di kamar baru itu. Sengaja suara saya jaharkan. Upaya untuk melenyapkan suasana horror benar-benar serius saya jalankan dan sepertinya kurang berhasil.
Saya teringat sunnah mengibaskan kain ke tempat yang akan kita tiduri sebanyak 3 kali sembari membaca shalawat. Ini saya lakukan juga.
