Community

Ditraktir Makan di Medan Kerang

Ditraktir Makan di Medan Kerang

Satu teflon besar kerang kepah besar, ale-ale, jagung manis dan udang yang berukuran cukup besar dari sebuah teflon sedang yang hampir penuh pun langsung dituangkan di hadapan kami.

Hidangan tersebut seakan memenuhi meja dan seketika mengalihkan perhatian kami. Saos kental yang menyelimuti hidangan tampak menggugah selera, ditambah nasi yang diletakkan di kiri dan kanan hidangan. Aku merasa menyantap makanan spesial di restoran yang biasanya aku lihat di televisi.

Namun tak hanya itu, Ayah Alif juga memesan 2 porsi kepiting besar, salah satunya kepiting saos telur asin. Kami diberikan semacam penjepit untuk memecahkan kulit kepiting yang keras. Saos telur asinnya tidak seperti biasa, aku bahkan tak tahu itu saos telur asin karena warnanya agak kehijau-hijauan.

“Bambunya curahkan di sini yak Mas,” seru ayah Alif kepada seorang pemuda.

Pemuda itupun mencurahkan sesuatu yang tampak seperti sulur bambu yang kecil, bahkan lebih kecil dari bambu terkecil yang pernah aku lihat. Bambu itu dilumuri dengan saos telur asin.

Namun setelah kupegang ternyata luarnya keras dan isinya lunak seperti kerang.

“Itu kerang bambu, biasanya pesan langsung dari luar Kalimantan,” ucap ayah Alif menerangkan.

“Ooh, kira kira satu porsinya berapa ya Bang?” tanyaku.

“Sekitar 30-40 ribu lah”.