“Kalau hidangan yang ini?” tanyaku kembali melirik kerang saprahan dan dua kepiting yang sebelumnya kami makan.
“Sekitar 380 ribuan, kami dapat diskon 10 %, ” balasnya menerangkan.
“Fantastis,” ucapku dalam hati.
Memang jumlah yang sangat fantastis menurutku. Namun mungkin untuk kalangan menengah ke atas, sesuai dengan sensasi makan yang ditawarkan.
Setelah aku lihat lagi, memang rata-rata orang yang makan di sini tampak berasal dari kalangan menengah ke atas. Ayah Alif pun membenarkan spekulasiku.
“Kalau makan di sini rasanya tak terasa sudah berapa banyak nasi yang kita habiskan,” ujar bunda Alif.
Kami pun menambah nasi lagi.
“Kalau ingin melihat kualitas rumah makan Melayu kita bisa lihat dari ramai tidaknya pengunjung Tionghoa yang datang”.
Aku hanya manggut-manggut.
Rasa yang ditawarkan memang enak, aku bahkan tak menyangka bahwa aku sudah makan terlalu banyak, padahal aku baru saja selesai makan. Makan di Medan Kerang menjadi sensasi makan seafoodku yang istimewa. (*)
