in

“Wayang Kristal Theano dari Yunani itu Keren Sekali”

FUI Gelar Workshop Upcycle

FUI Gelar Workshop

Oleh Erwan Widiyarto

Di tangan orang-orang kreatif, sampah bisa jadi produk cantik. Hal tersebut terlihat di stan pameran produk daur ulang upcycle di markas Forum Upcycle Indonesia (FUI), Bantul, Jogja. Ya di Riverhouse Njomblang ini, sejak 17 Agustus 2020 digelar Independence Artcycle Day. Memamerkan karya upcycle dari para pelaku kreatif berbasis sampah. Pameran digelar hingga 16 September 2020.

Sejumlah karya upcycle dari beragam bahan. Ada wajah Buddha dari bubur kertas. Relief perahu phinisi. Patung Loro Blonyo juga dari bubur kertas. Ada tatakan gelas dan jam dinding dari olahan tutup botol. Ada sejumlah patung dari onderdil motor. Ada pula baju dan tas dari celana jins bekas. Wayang golek. Dan juga ada sejumlah wayang kristal.

Ketua Forum Upcycle Indonesia Franzizca Fennert menegaskan forum ini memang dibentuk sebagai wadah untuk membuat program yang mendukung program Indonesia Bebas Sampah. Forum berusaha meningkatkan kepedulian dan partisipasi warga (publik) terhadap krisis sistem penanganan sampah di Indonesia.

Caranya? Dengan memilih dan memilah sampah untuk di-upgrade atau di-upcycle dalam berbagai fungsi maupun sebagai karya seni. Untuk itulah, Forum ini perlu berjaringan dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Guna mengembangkan teknologi upcycle maupun menyosialisasikannya kepada masyarakat luas.

“Forum Upcycle Indonesa ingin berbagi dan mengembangkan bersama beragam teknologi untuk mengolah segala macam sampah menjadi sesuatu yang nilai atau kegunaannya lebih baik. Tidak ada copy right di sini, semua teknologi upcycle boleh di-copy dan disebarluaskan demi merdekanya bumi dari sampah dan majunya peradaban manusia di bumi,” tegasnya.

FUI Gelar Workshop 1

Sebenarnya, Forum Upcycle Indonesia menggelar Festival Upcycle Internasional mulai Agustus ini. Namun karena pandemi, acara yang diikuti sejumlah negara ini, ditunda. Forum Upcycle Indonesia sudah mengantongi SK dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul dan badan hukum dari Kemenhukham dengan nomor AHU-0011009.AH.01.07.Tahun 2019.

Sebagai “ganti” digelarlah pameran ini. Di sela-sela pameran digelar workshop. Workshop 30 Agustus adalah workshop kedua. Workshop pertama digelar 23 Agustus 2020. Workshop berikutnya pada 16 September 2020 bersamaan dengan penutupan pameran.

Workshop 30 Agustus mengolah botol plastik bekas menjadi wayang. Menghadirkan Sardiman sebagai pemandu. Sardiman pelaku upcycle dengan beragam produk. Salah satunya Wayang Kristal. Wayang yang dibikin dari plastik botol minuman.

Workshop digelar di markas Indonesian Upcycle Forum (IUF). Forum pegiat upcycle. Ada pegiat bank sampah, pegiat daur ulang, seniman, guru, ibu rumah tangga dan sejumlah mahasiswa. Bahkan mahasiswa asing yang sedang studi di Jogja. Ada yang berasal dari Yunani. Ada yang dari Perancis. Franzisca sendiri kelahiran Jerman.
Siang itu, sekira 20 orang berkumpul di Riverhouse, Njomblang. Masuk wilayah Bantul, Jogja. Mereka siap dengan peralatan “tempur”. Ada gunting, cutter, kaos tangan, jarum, benang, solder, cotton buds, korek api, amplas, dan botol plastik bekas. Rangkaian listrik untuk solder berderet di tengah arena.

“Wah, saya nyerah kalah nih!” seloroh Sardi Beib sembari memegang satu wayang kristal. Dia mengamati dengan serius “ukiran” di figur Togog yang dipegangnya itu. Sardi Beib adalah nama panggung Sardiman.

“Ini gurunya kalah jauh. Detail sekali garapannya. Ini jiwamu ada di sini. Rasamu keluar dalam karya ini,” tambah Sardi Beib.

Ia mengomentari wayang kristal hasil karya Theano, “murid”nya. Perempuan. Mahasiswi asal Yunani. Salah satu peserta Workshop Wayang Kristal. “Karyamu keren sekali ini. Theano bisa mengembangkan ini dengan wayang atau cerita asli Yunani,” saran Sardi Beib.

Sardiman terus memandu jalannya workshop. Diselingi dialog dengan pengurus Paguyuban Bank Sampah DIY. Membincangkan perihal sampah pilah dan mengolahnya menjadi produk kreatif.

“Silakan menempati posisi di dekat colokan. Usahakan jaga jarak minimal satu meter. Mengikuti protokol. Colokan sudah saya buat berjarak,” ujar Sardi Beib.

Para peserta mendapatkan masing-masing satu tas dari botol bekas yang berisi perkakas. Alat dan bahan. Sebelum perkakas dibagikan, Sardi meminta mereka menyimak uraiannya. Ia paparkan uUrutan pembuatan wayang kristal. “Fokus ke sini dulu. Kalau dibagikan nanti malah fokusnya ke alat dan bahan itu,” tambah pria tambun ini.

FUI Gelar Workshop 2

Sardiman, begitu nama aslinya, lantas mengambil botol plastik bekas air mineral ukuran 1.500 ml. Dia memotong sebagian di bagian atas. Bagian di bawah leher. Dan bagian pantat botol. Mengambil bagian botol yang rata. Kemudian ia membelah botol tersebut. Jadi lembaran kotak.

Lembaran kotak dari botol itu lantas ia bolak-balik agar rata membentuk lembaran. Ia siapkan setrika. Lembaran plastik dari botol bekas itupun ia setrika. “Tekan dan gerakkan. Sampai plastiknya rata. Asal gerak dan tidak diam, plastik tidak lengket (ke setrika),” katanya sembari menekan-nekan plastik lembaran dari botol plastik tersebut.

Para peserta serius menyimak. Termasuk yang memantau lewat tayangan live di Facebook Indonesian Upcycle Forum.

https://www.facebook.com/indonesianupcycleforum/videos/1236660000031584
Lembaran plastik yang masih anget kena setrika itu, lalu ia pres dengan kaca. “Agar lebih rata,” katanya. Langkah berikutnya, lembaran plastik tersebut ditempel di atas gambar wayang yang ada di atas triplek. Lembaran plastik distaples menyatu dengan gambar di atas triplek itu.

Setelah siap, lembaran botol plastik itu disolder. Mengikuti pola gambar yang ada. Kreativitas membuat lubang, atau garis dengan solder itulah yang membuat hasil wayang berbeda-beda. “Ukiran” yang didapat dengan melubangi botol plastik sesuai pola wayang, menghasilkan keindahan tersendiri. Terlihat seperti materi dari kristal. Itulah kenapa wayang hasil kreativitas ini disebut Wayang Kristal.

Saat lembaran plastik kurang lebar, tidak menutup pola gambar, Sardiman mencontohkan cara menyambung lembaran plastiknya. Lembaran plastik baru, ditumpuk di atas plastik yang lama. Kemudian disolder di tumpukan tersebut. “Menumpangnya dua mili saja. Lalu solder di bagian itu. Maka plastik akan menyambung. Sedikit terlihat sambungan karena ketebalannya beda,” urainya.

Tentu, tidak hanya wayang yang bisa dihasilkan dari botol plastik ini. Bisa saja pola wajah seseorang. Bisa pula gambar bunga. Atau logo perusahaan. Kaligrafi juga bisa. Tergantung pada kreativitas masing-masing. “Bahkan bisa dibuat partisi atau dinding. Karena, lembaran plastik dari botol ini bisa disambung-sambung,” tambah Iwan Wijono.

Iwan adalah seniman yang pernah mengenyam pendidikan di ISI Jogja. Juga alumni Fakultas Hukum Uiniversitas Islam Indonesia (UII). Ia menjadi Ketua Panitia kegiatan workshop ini. (*Penulis adalah jurnalis yang aktif dalam edukasi lingkungan hidup. Domisili di Yogyakarta)

Written by teraju.id

rumah literasi

Bersaing Menyiapkan Buku di Rumah Literasi

rumah literasi 2

Belajar dan Mengajar di Rumah Literasi