Community

Kenapa Pakai “SULTAN”

Kenapa Pakai “SULTAN”

Setelah itu Sang Sultan menyatukan ikatan sosial, dalam balutan jamaah Masjid Kesultanan. Menjadikan jamaah sebagai warga yang harus dirawat dan ditumbuhkan.

Setelah segenap potensi kekuatan jamaah diberdayakan dan digerakkan untuk sama-sama membangun komunitas internal jamaah. Dari jamaah, kembali ke jamaah.

Yang bisa manajemen duduk di manajamen.
Yang bisa nukang ya jadi tukang, bantu bangun infrastruktur.
Yang bisanya ngajar ya ngajar.
Yang bisanya masak ya masak.
Yang bisanya digital online sales ya bantu jualan produk masjid.
Yang bisa berproduksi ya dibantu supaya bisa berproduksi.

Lalu..m

Anak-anak jamaah maajid disediakan pendidikan gratis.

Warga yang sudah berkarir di pekerjaan dan bisnis ditambah kompetensinya, ditingkatkan kapasitasnya.

Ibu rumah tangga jamaah masjid diberi pembekalan keterampilan. Dimaksimalkan potensinya, tanpa harus meninggalkan hunian atau kawasan.

Anak-anak muda usia produktif dibekali dengan kompetensi skill yang jelas untuk hidup.

Asset waqaf masjid digerakkan sebagai platform ekonomi jamaah. Bisa jadi perkebunan, pertanian, industri pengolahan makanan.

Divisi usaha masjid bisa membangun pusat distribusi barang untuk “memasukkan devisa dagang” kedalam pusaran ekonomi masjid.

Divisi amal sosial masjid bisa memaksimalkan kedermawanan banyak pihak untuk kemudian menjadi bahan bakar cost layanan publik.

Sekali lagi, negeri ini butuh Sultan Muda yang berani memimpin, mengasuh, dan mengabdikan dirinya untuk ummat.

*

Bukankah kesultanan di negeri ini dulu tercipta juga demikian.