Community

Kulat

Kulat

Oleh: Ambaryani

Hari Minggu kemarin, misua yang jadwal belanja ke pasar sayur. Setelah pagi main bulu tangkis, pulang langsung ke pasar Flamboyan. Begitu pulang, ada sayur yang belum pernah kami beli selama ini di antara kantong-kantong kresek sayuran.

Baca Juga:Salah Tangkap

“Dimona kula’ nomu kulat itu’?” Umak bertanya pada misua yang baru saja datang dan meletakkan kresek sayuran di dapur.

“Di Flamboyan, todik aku ngingkat… lagi’ bait.”

Saya mendengar sambil melihat kresek itu.

Jamur jenis ini, pernah dulu saya lihat di kampung. Tapi, belum pernah memasaknya. Ini pengalaman pertama saya makan jamur atau kulat taun –bahasa ulu menamainya, jenis ini. Kata umak dan misua, jamur jenis ini sering tumbuh di batang karet atau kayu yang sudah tumbang.

Jamurnya kecil-kecil. Warnanya putih kecoklatan. Baunya, khas jamur. Ada perpaduan aroma batang kayu. Teksturnya kenyal-kenyal mempal. Alot.

Sebelum memasaknya, jamur dicuci bersih dulu. Karena kadang di dalamnya atau selah-selah jamur ada binatang-binatang kecilnya. Harus jeli saat mencucinya. Setelah itu jamur ditiriskan sebelum akhirnya ditumbuk.

Iya, sebelum ditumis bersama bumbu bawang merah putih, cabek dan diberi sedikit ikan teri, jamur ditumbuk. Bisa juga tidak ditumbuk kalau jamurnya masih baru, belum dijemur. Saya rasa, tujuan umak menumbuk terlebih dahulu sebelum menumisnya, agar tekstur jamur agak lembut.