Buah dari belajar yang sangat keras adalah bea siswa untuk melajutkan ke perguruan tinggi hingga selesai program doktor.
Begitu terima kabar dari notaris Nugroho, malam kemarin, aku langsung ‘brosing’ mencari tiket Melbourne-Jakarta-Pontianak. Syukurlah koridor penerbangan Australia-Malaysia dan Indonesia-Malaysia sudah dibuka. Tentu, dengan persyaratan kesehatan yang ketat di era pandemi ini.
Tadi malam, notaris Nugroho mengajakku ke makam ibu, pagi ini, untuk mendengarkan rekaman ‘wasiat’ ibu.
“John, maafkan Ibu.
Ibu merasa waktu tidak menginjinkan kita bertemu. Kondisi Ibu sudah mengkhawatirkan.
Ibu merekam ini lewat gawai di kamar isolasi Covid ke notaris Nugroho. Dengan harapan, pada waktunya ia dapat menghubungimu untuk mengurus segala sesuatunya yang Ibu tinggalkan kepadamu lewat suara ibu ini.
Ibu mulai dari awal.
Pertama, Ibu minta maaf tidak seppt mengenalkan ayahmu. Ia seorang anggota TNI, berpangkat mayor. Almarhum meninggalkan kita saat kau masih dalam kandungan. Pesawat yang ditumpanginya hilang di tengah hutan belantara Papua.
Agar tidak mengganggu perkembanganmu, semua foto dan peninggalan lainnya Ibu simpan di lemari di kamar Ibu. Kuncinya saya titipkan mas Nugroho. Mas Nugroho adalah notaris yang menerima rekaman ini atas permintaanku.
