Kelima, ini yang paling penting bagimu, anakku. Ibu sangat sayang kepadamu. Ibu tidak memiliki apa-apa kecuali kau, John. Ketika kau umur tiga tahun kau mengalami kecelakaan dan salah satu bola matamu hilang.
Untunglah, ada kunjungan seorang ahli mata dari Singapura ke rumah sakit. Ibu meminta bantuan Direktur agar mencakokkan mata Ibu kepadamu. Syukurlah semua berjalan lancar. Jadilah Ibu bermata satu ini.
Maaf, Ibu memberitahu ini supaya semua menjadi jelas. Kau tidak perlu menyesal. Ibu tidak menganggapmu bersalah. Semua ini Ibu jalani karena yakin bahwa inilah tugas Ibu yaitu menemani penjiarahan hidupmu di dunia ini semasa masih lemah.
Sebagai kata akhir, jalanilah hidupmu dengan langkah yang tegap. Iman yang kuat dan nalar yang jernih akan membimbingmu menyelesaikan penjiarahan ini dengan baik sesuai dengan rencana-Nya.
Jika, sesekali mengunjungi makam Ibu bawalah sekumtum bunga mawar putih. Itu bunga yang disematkan ayahmu ke sanggul Ibu sebelum berangkat meninggalkan kita untuk selamanya.
Terima kasih, Mas Nug atas bantuannya. Hubungilah John pada waktu yang tepat, kapan pun. Sampaikan rasa cinta saya kepadanya.
Selamat malam.
Ibu Murni Setyawati.”
“Inilah Mas John, pesan ibu. Sekarang kita dapat memulai menyelesaikan segala yang diminta dalam seminggu ini.” Kata notaris Nugroho.
