Kalau dari arah kantor camat, mestinya kami belok kiri, arah jembatan. Tapi, dari pada sesat, kami bertanya pada ibu-ibu yang kebetulan lewat. Dan benar, rupanya jalan arah jembatanlah yang menuju Sungai Terus. Kalau jalan lurus yang awalnya kami pilih, arah menuju darat, Parit Rimba. Begitu orang setempat menyebutnya.
Setelah jembatan, jalan bersemen lumayan besar. Hanya saja, semennya sudah bolong besar-besar di sana-sini. Kalau tak pelan dan hati-hati, motor terhempas, dan bisa nyangkut.
Tak lama, jalan semennya menyempit. Tak sampai 2 meter sepertinya. Kanan kirinya semak dan kebun karet. Ada juga kebun jengkol. Jalannya juga mulai becek. Semen berlobang, mulai hancur dan sudah menyentuh tanah. Ada yang diberi papan dan kayu bulat di lubang-lubang jalan.
Berkali-kali saya harus turun dari motor, karena kalau tidak motor tak bisa naik kalau ada penumpang di belakang. Kak Yuyun pengemudinya. Semakin ke dalam semakin sempit jalannya, semak semakin tebal.
“Mane ni Mbar kampung e? Semak jak semue? Tak ada rumah?”, Kak Yun nampaknya mulai khawatir.
“Entahlah Kak ye, Ambar pun tak tahu. Kate terus…jak jalan ni, jumpelah Sungai Terus”, kata saya.
