Community

Sungai Terus

Sungai Terus

Iya, sebenarnya saya agak khawatir juga. Karena semak semakin tebal. Belum nampak tanda-tanda ada perkampungan. Dan saat itu, tak ada satu pun orang yang lalu lalang. Tapi saya perhatikan, ada tiang listrik. Artinya, di ujung sana pasti ada penduduk. Perkampungan. Selamat, tak akan sesat.

Sudah di ujung jalan berlubang, ada orang lewat. Kami memastikan, dan bertanya. Apakah Sungai Terus masih jauh dari posisi kami saat itu. Ternyata, Sungai Terus tinggal sejengkal. Kami lanjutkan perjalanan.

Tak lama, jalan semen agak lebar mulai nampak. Tak jauh dari jembatan, pas perempatan TR 7 dan masjid Jami Baitul Muttaqin.

Saya melanjutkan perjalanan, tanya sana sini, akhirnya ketemu rumah Pak Joko. Sementara rumah Pak Sawon, belum jumpa. Ada yang bilang beliau di TR 4, ada juga di TR 5. Ada yang bilang rumahnya di seberang parit. Kami agak bingung dengan penjelasan yang kami dapat.

Akhirnya kami memutuskan pulang, karena hari semakin sore.

Hari itu, saya menginjakkan kaki di Sungai Terus. Yang selama ini saya dengar tanah yang banyak ditanami pohon salak. Ya, salak yang selama ini kami beli di Kubu, dari sinilah asalnya. (*)