Syukurlah AR Mecer tangkas menjawabnya sehingga kami para redaktur tidak dibuat malu di situ. Memang beliau amat sangat edukatif. “CU menghitung aset tanah dan tanaman milik diri sendiri sebagai anggota maupun pengurus sekaligus orang kampung. Kami kelola total aset sebagai jaminan modal. Jumlahnya fantastis ketika dikonversi ke angka-angka rupiah. Matematis sekali sifatnya. Imajinasi tumbuh sehat. Fokus pada program yang dibayangkan sebagai surga yang hilang berhasil ditemukan.
Kami sendiri para guru urunan duit gaji sebagai modal riil. Modal ini digelontorkan kepada nasabah berbadan hukum koperasi selaku soko guru ekonomi Bangsa Indonesia. Lalu hasil panen tanah dan tanaman yang tidak ‘mereka’ kelola dengan baik sebagai suatu sistem ekonomi dikelola profesional akademis. Kami kemudian dilirik para pemodal dan orang-orang baik yang mau menabung besar-besaran.” Di sanalah kumbang-kumbang berdatangan. Di sanalah duit beranak pinak sementara lahan berhasil dipertahankan. Sampai kini, 2020, 160 ribuan warga Kalbar khususnya pedalaman menjadi anggota Credit Union. Dana terhimpun triliunan! Decak kagum tiada henti. Terutama masa pandemi, pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) CU Pancur Kasih masih mencatat pertumbuhan 5-6 persen. Baik pendaftaran anggota baru maupun dana masuk. Padahal di tengah resesi ekonomi era Pandemi Gile bernama Covid-19 rerata collapse. Roboh. Tumbang. APBN dan APBD saja sampai minus.
