
AR Mecer bercerita soal filsafat Credit Union yang didirikannya bersama para guru, bahwa dia bertamsil matematis punya uang 1 juta. Dia ingin membeli bola lampu seharga 100 ribu 10 buah. Namun dia tidak mau uangnya hilang, bahkan berkurang. Tapi lampu 10 buah jadi miliknya serta dirasakan fungsi kesehariannya melawan gelapnya malam. “Sewaktu hendak ke pasar, terpikir kita tidak punya kendaraan, maka setidaknya perlu sepeda. Uang 1 juta dibelikan sepeda, tetapi uangnya tetap bahkan bertumbuh bisa?” Kami mengeryitkan jidat mendengar penuturan AR Mecer yang kala itu pakai baju batik lusuh dan berkain plekat. Persis datok-datok kita di kampung-kampung.
“Tidak hanya itu, ketika pulang dari pasar, hendak memasang lampu, baru terpikir kita butuh tangga. Tangga dibeli dengan dana 1 juta, tetapi uang tidak berkurang, bahkan bertumbuh!?” AR Mecer kian menukik tajam.Kami pusing. Sungguh.
Ciyussss…. Kami makin terdiam-terpaku-beku memikirkannya. Saya gelisah berlagak pikir ala komputasi berumus akar kuadrat dan rumus Phytagoras, bahkan Archimedes dibawa-bawa dengan hukum benda terapungnya. tapi hasil akhirnya tetap buntu. Tak nemu. Wong kami anak kampus hijau Pertanian yang masih hijau.
