in

Ulasan Buku : (bukan) Tabu di Nusantara

WhatsApp Image 2020 04 10 at 09.07.00

non-fiksi
Penulis: Achmad Sunjayadi
Tebal halaman: 201
Tahun: 2018

Buku ini 100% mengulas sejarah hal-hal tabu di Indonesia perihal seksualitas (utamanya pada masa kolonialisme Belanda). Bab paling aku suka di buku ini adalah Kehidupan Seksual di Onderneming. Onderneming atau perkebunan itu isinya pekerja laki-laki baik pribumi, Indon, dan Eropa, dan pekerja perempuan pribumi. Pekerja perempuan ini karena fisiknya lemah mereka gak bisa bekerja seprima laki-laki makanya bayaran mereka kecil dan melacurkan diri jadi mata pencaharian di malam hari.

Lalu ada fakta lain yang buat aku mencengangkan. Pada bagian Kehamilan dan Alat Kontrasepsi terdapat bukti sejarah yang menyatakan bahwa pada tahun 1500 SM pencegahan kehamilan dilakukan dengan mengolesi kotoran buaya di vagina dengan tujuan untuk ‘menakut-nakuti’ sperma hingga enggan bertemu sel telur. Kemudian pada tahun 400 SM alat kontrasepsi yang digunakan adalah batu-batu yang dimasukkan kedalam rahim menggunakan pipa timbal. Ngebayanginnya aja serem. Baanyak pelajaran yang aku tangkap dari buku ini, satu diantaranya: banyak banget anak-anak hasil pergundikan yang gak diurus ibunya karena biasanya setelah pisah dengan si ’empunya’ gundik ini akan mencari laki-laki lain dan meninggalkan anak mereka di panti asuhan.

Buku ini patut dibaca untuk mereka yang penasaran dengan dunia pelacuran pada masa kolonial dan budaya homoseksualitas di Indonesia.

WhatsApp Image 2020 04 10 at 09.07.01

Untuk aku pribadi yang suka dengan sejarah jadi buku ini ringan, gak perlu buka kamus karena penulis menggunakan bahasa yang sederhana, dan gak butuh waktu lama untuk mencerna informasi sejarah di dalamnya.

Yang aku sayangkan dari buku ini penulis gak memasukkan analisis tajam dalam setiap babnya dan tidak mencantumkan teori-teori terkait (yang aku maklumi pada akhirnya karena di bagian cover penulis bikin disclaimer gak akan nganalisis terlalu jauh karena buku ini deskriptif aja). Tapi tetep aja ekspektasi gak ditahan.

Written by Rike Rahayu

Rike Rahayu is a volunteer, a student, and a writer. A Volunteer of AFS Indonesia, Bina Antarbudaya chapter Pontianak, and Kampoeng English Poernama. She was studying at Trilogi University in Jakarta and currently at Pontianak State Polytechnic.

She was writing 3 books, and shortlisted for Journalism Fellowship to Malaysia and Singapore in 2018. She has contributed to KEP's Literature Project. She lives in Pontianak.

WhatsApp Image 2020 04 10 at 09.37.55

Tangkal Corona, Selama Seminggu Warga Bakti Suci Hidupkan Tradisi Burdah

WhatsApp Image 2020 04 10 at 13.32.24

Mahasiswa Psikologi Islam IAIN Pontianak, Gencarkan Himbauan “Phsycal Distancing’’