Lewat gelombang radio yang dipantulkan oleh butir kristal-kristal es di lapisan stratosfir, diberitakan bahwa sampai hari ini sudah ada 32 teman sejawat yang menyusul saya. Ada yang berangkat sendirian. Ada juga yang berombongan bersama kolega atau kawan perawat. Bahkan ada yang seluruh anggota keluarga pergi berurutan. Misalnya, kolega dari Jawa Timur, diawali si ibu, seorang bidan yang terinfeksi waktu sedangn menolong persalinan seorang ibu. Seminggu kemudian sumai, perawat menyusul. Berikut anak lelaki satu-satunya, dokter umum terinfeksi, dan menyusul kedua orang tuanya. Belakangan anak menantu, juga dokter seminggu yang lalu menyusul suaminya. Habislah keluarga tersebut.
Ada baiknya, jika semua orang memperhatikan kesehatan diri masing-masing. Walau tidak disengaja, virus yang terbawa dengan mudah menginfeksi kami ketika mereka sedang memerlukan perawatan kami. Kami yang menjadi kurban.
Memang, tidak semua, para kolega yang menyususl saya, semata-mata karena Covid-19 tetapi juga ada beberapa yang komorbid. Namun, pemicunya tetap saja Covid-19. Mereka, seperti saya terpapar karena sedang menangani pasien, baik yang positif terpapar Covid-19 amupun yang OTG-orang tanpa gejala.
