Maaf, layar plasma langit sudah mengembang, membentang di ngkasa hingga di batas cakrawala. Di layar sana digambarkan saya baru saja selesai membantu persalinan seorang ibu muda yang sejak kemrin sore diobservasi. Pagi ini anaknya lahir dengan selamat. Oleh kakeknya, si bayi langsung diberi nama Maria Ulfah.
Selesai mencuci tangan, belum sempat minum, saya langsung pergi bersama perawat lain mengunjungi Kakek Min. Katanya, ia sakit tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengantarkan ke Puskesmas. Kakek Min meminta saya yang memeriksa.
Dengan ‘speed boat’ Puskesmas, kami menyusuri pantai yang ada di punggung seberang bukit batu belakang Puskesmas. Sesunggahnya sepanjang pesisir yang kami lewati cukup indah, namun saya tidak tergerak untuk menikmatinya. Dalam hati terbayang almarhum kakek yang meninggal karena tidak sempat diperiksa dokter. Lokasinya yang menghalangi kunjungan dokter. Harus melewati jalan setapak.
Ketika kami sampai di tempat, pintu rumah sudah terbuka. Salam kami di sambut oleh suara lirih Kakek Min dari dalam. Ia mempersilahkan kami langsung naik ke rumah dan menuju kamarnya.
Di kamar, kami dapati sepasang kakek nenek tergolek tidur di lantai tanpa alas apa pun. Memang, karena bangunan tua, lantai rumah ini terbuat dari papan kayu ulin. Jika di rawat tampak hitam mengkilap.
