GOR Pangsuma saat itu gegap gempita, namun saat Soeharto melangkah masuk suara tetiba hening. Di sana saya merasakan aura rrruar biasa dari pejabat tinggi negara. Di sini saya menikmati liputan dari suatu kata: wibawa.
Jarak paling dekat dengan Presiden secara protokoler waktu itu minimal 5 meter. Saya tak sempat bilang terima kasih atas “hadiah jam tangan emasnya”. Tapi peristiwa di atas secara keseluruhan adalah detik demi detik yang bergerak. Sejarah yang diukir oleh orang orang besar saya rasakan lebih dari logam mulia 24 karat. Semoga kisah di atas merupakan kisah emas sepanjang pengalaman meliput Presiden RI ke-2 dan Presiden RI 3.
*
Baca Juga:Pasinaon: Katak Menelan Naga
