Opini

’95 Bersama Habibie

’95 Bersama Habibie
Jarak 5 meter meliput the smiling general, Soeharto

Oleh: Nur Iskandar

Suatu malam saya bermimpi Presiden Soeharto memberikan hadiah jam tangan emas ke lengan kiri. Terperanjat bangun, tak tentu pasal, saya balikkan bantal untuk kemudian tidur kembali. Saat bangun saya berpikir, apa makna mimpi tadi malam? Kok rasanya aneh sekali. Kata emak saya, bagus mimpi ketemu orang besar. Setidaknya beralamat baek…

Ooo betul. Alamat baek itu datang dari Bandung. Saya dapat undangan untuk diklat pers mahasiswa tingkat lanjut / tingkat pembina. Terbanglah dengan pesawat, sesuatu banget bagi kami yang masih mahasiswa. Apalagi biaya PP ditanggung kampus, termasuk uang jajan selama misi perjalanan.

Di Bandung selain mengikuti Diklat Jurnalistik, saya juga punya misi khusus, yakni mengecek LKTI IPA tingkat nasional di ITB setelah lolos seleksi di Untan. Mengirit biaya saya inap di UKM Pers. Adalah aktivis pers kampus, Pimred Tabloid Isola, IKIP Bandung, Adang Durrahman Bokin mengajak saya liputan ke ITB. Ada kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Teknologi yang diikuti puluhan delegasi negeri manca. Maka bak gayung bersambut. Sekali dayung dua tiga pulau lewat. Ibarat sekali menyelam minum air.