Kemudian beliau mengungkapkan kesannya terhadap murid beliau. Ada kebanggaan karena muridnya telah belajar hingga pendidikan tinggi. Padahal sekolah di Jongkong itu terbatas, dalam semua hal. Alumni kini, masih mengingat para guru dan berterima kasih atas apa yang mereka terima-berikan.
Hingga sampailah beliau pada cerita terharu ketika bertemu dengan Ibrahim, muridnya yang kini menjadi dosen di IAIN Pontianak. Kala itu Ibrahim mengingatkan kembali soal diktat beliau. “Saya sangat berkesan dengan Ibrahim. Saat bertemu, dia mengatakan, Pak kitab yang bapak bikin, masih hapal seluruh isi. Hati saya… bangga….”
Pak Jayadi terisak. Beberapa saat keharuan menyeruak.
Saya teringat, dahulu saat beliau mengajar. Diktat itu berisi kumpulan bahan-bahan ayat Alquran dan Hadits yang disiapkan untuk mendukung proses belajar mengajar agar memudahkan siswa. Siswa wajib menghapal bahan tersebut, dan disetorkan setiap minggu.
Setelah itu, suasana kembali sedia kala. Sapa peroba’ dan kenangan awal pendirian diungkapkan oleh Wa Syahpudin. Beliau lebih memilih sekolah di MA Jongkong sebagai murid pertama, dibandingkan melanjutkan sekolah di SPG Putussibau—sekalipun sudah diterima saat mendaftar.
