Pak Sani membicarakan tentang pengembangan sekolah dan peran alumni. Begitu juga dengan Dr. Hermansyah. Giliran saya tiba. Saya bicara singkat tentang pengalaman dahulu dan yang akan datang. Bang Khusyairi pun demikian. Beliau mengingatkan para alumni agar mewadahi diri dan berperan lebih banyak.
Setelah pemutaran foto para pendiri, H. Baiduri menjadi penutup reuni. Beliau memberikan apresiasi dan menyapa semua. Setelah itu, diceritakan tentang sejarah pendirian sekolah dan harapan-harapannya. Banyak hal baru yang beliau sampaikan. Sebagai anak yang dekat dengan ayahnya, banyak informasi diketahuinya dan malam itu dibagikan kepada para alumni.
Hingga kemudian cerita sampai pada alih status MTS menjadi MTSN Jongkong. Rupanya, keputusan itu diambil dengan berat, menimbang banyak aspek, terutama untuk kelangsungan penyelenggaraan pendidikan.
H. Baiduri menangis mengenang betapa berat ayahnda menimbang jasa-jasa pendiri dan amanat di satu sisi, saat alih status MA.
“Saat itu saya sampaikan peluang alih status Aliyah menjadi negeri. Begitu saya sampaikan seperti itu, Beliau menangis. Ketika saya sampaikan seperti itu… jarang saya melihat beliau menangis. Tak lama, saya melihat beliau meneteskan air mata,” cerita H. Baiduri.
“Kata beliau, Bai, kalau saya masih kuat, kalau saya masih sehat, kalau saya masih muda. Tidak akan saya lepaskan Aliyah ini. Saya masih sanggup memperjuangkannya. Saya masih sanggup membinanya”.
