“Kini, saya sudah tidak punya tenaga. Tidak punya kekuatan. Ini saya serahkan kepada kalian”.
“Cuma yang saya minta, tolong madrasah (Ibtidaiyah) yang masih ada kalian bina. Kalau masih ada, jangan kalian tinggalkan. Karena itu perjuangan dari ayi-ayi kalian. Saya pesankan kalian, seluruh masyarakat, Jongkong, Embau, Pengkadan. Sekolah ini keringat seluruh masyarakat yang ada”.
Kata H. Baiduri, lama dia tidak bisa mengungkapkan kata-kata. “Kalimat itulah yang sampaikan hari ini, masih selalu menghantui saya. Sementara saya masih muda, masih kuat, tidak mampu membangun…”
Mendengar cerita H. Baiduri saat itu, di depan saya seakan tergambar wajah Ustadz Haji yang kharismatik. Wajah tipis dan sederhana. Sosok yang dahulu disegani murid-muridnya. Sosok yang telah sangat berjasa untuk pengembangan pendidikan dan Islam di Kapuas Hulu.
H. Baiduri juga mengungkapkan pesan-pesan almarhum padanya untuk mendekat para alumni, murid-murid yang awal. Beliau berharap silaturrahmi para alumni terjaga.
Seketika saya merasa lega, setelah sesak. Malam ini, reuni ini, sebuah mpokat kecil membuahkan hasil. Reuni dapat dilaksanakan dan mengesankan. Meskipun tajuknya “peroba’”, dan pelepasan rindu sudah dilaksanakan, tetapi, banyak hal baik bisa diperoleh setelah reuni virtual itu. Satu dari pesan Ustadz Haji tentang silaturrahmi, kami laksanakan. (*)
