Perundingan di KMB dilakukan oleh tiga pihak, yaitu Kerajaan/Negara Belanda (Nederland), BFO (Bijeenkomst Voor Federaal Overleg)/Majelis Permusyawaratan Negara-negara Federal, dan RI (Republik Indonesia) dalam wilayah Yogyakarta. Ketika itu, delegasi Belanda dipimpin oleh J.H. Van Maarseveen, sedangkan delegasi Republik Indonesia (RI) dipimpin oleh Perdana Menteri Moh. Hatta, dan delegasi BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Pontianak sebagai Ketua Majelis Negara-negara Federal. Hadir pula delegasi UNCI/PBB (Persatuan Bangsa-bangsa) yang dipimpin oleh Crittchlay.
Rupa sejarah tersebut adalah ihwal penting untuk mencatat rekam jejak para pendiri negara Indonesia hari ini. Jelas, Indonesia berdiri atas gagasan-gagasan konseptual founding fathers seperti Soekarno, Moh. Hatta, Sultan Hamid II, Ide Anak Agung Gde Agung, Moh. Yamin, Sutan Sjahrir, Tengku Mansoer, dan tokoh lainnya pada masa (transisi kemerdekaan) itu. Mereka berperan penting dalam menentukan arah langkah Indonesia.

Namun sebelum itu, langkah perjuangan diplomasi Indonesia tak selalu berjalan mulus. Banyak perundingan-perundingan lain sebelum itu mengalami jalan buntu. Perundingan-perundingan politik negara seperti Perundingan Malino, Denpasar, Renville, Linggarjati, BFC, IJC, dan lainnya. Kemudian akibat agresi militer belanda kedua di Yogyakarta, pemimpin Indonesia kembali diasingkan. Pemimpin Republik Indonesia itu diasingkan di Muntok, Bangka Belitung.
Meresmikan Tempat Pengasingan di Muntok
