Ruang makan di Gedung/Roemah Persinggahan BTW (Pasanggrahan Banka Tinwinning) menjadi ikon penting bagi pengakuan atau penyerahan kedaulatan terhadap Indonesia agar diakui dunia dan disinilah penentuan Kemerdekaan Penuh itu dicapai, tanpa ini Indonesia Sulit merdeka. Presiden Soekarno pernah mengatakan bahwa Kompromi terakhir dari persetujuan Roem Roijen berlangsung di meja dapurku, di rumah instansi milik pertambangan timah dimana aku diasingkan. Van Roijen yang mewakili Negeri Belanda bersedia mengembalikan para pemimpin Republik ke Djogja, Moh. Roem yang mewakili Republik bersedia untuk menghentikan kegiatan gerilya, pasukan Republik dan kedua belah pihak sepakat untuk segera mengadakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, guna membicarakan pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia.
Kedaulatan Penuh Dengan Perjuangan Diplomasi
Tak dapat dipungkiri bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya didapatkan dari perang gerilya (Lihat buku: Kekuatan Ketiga; Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, RZ. Leirissa, 2006), namun juga karena kekuatan perjuangan diplomasi para pendiri bangsa. Salah satunya dari peran Sultan Hamid II dari Pontianak-Kalimantan Barat, yang melakukan diplomasi politik kepada Belanda agar memberikan kedaulatan penuh kepada Indonesia, begitupula terhadap tokoh-tokoh revolusioner pendiri Indonesia, Soekarno, Hatta, dan lainnya. Tampak dari komunikasi politik yang dilakukannya membuahkan hasil yang signifikan terhadap pengakuan dan kedaulatan yang diberikan di Konferensi Meja Bundar, begitupula dengan proses-proses politik sebelumnya.
