
Satu kesatuan sejarah ini ada di Bumi khaTULIStiwa. Jejak kesejarahannya pun ada. Lihat tebing layar Istana Qadriyah. Aksara yang dipergunakan adalah Arab Melayu. Telah terpatri sejak 1771. Itu pula yang diadopsi sebagai aksara dwilingual nama Jalan Tanjung Raya. Itu pula yang diadopsi Rumah Melayu. Tidaklah ada yang kliru abang, kakak, bapak-ibu. Jika kita tarik dari sosiologi historisnya sudah hadir dan mengalir sepanjang Kapuas sejak tempo doeloe. Aksara bilingual ini justru lebih kental di Sambas, Ketapang dan Sintang. Begitulah adanya. Kita semua perlu tahu aspek historis dan akademis itu. *
Baca Juga:Pendidikan Itu Penting bagi Kami
