Ada satu hal yang sering terlambat kita sadari setelah menikah. Yaitu rumah tangga tidak cuma soal cinta, tapi juga soal daya tahan. Kadang tahan lapar, tahan gengsi, tahan emosi, bahkan tahan mendengar kalimat, “Terserah abang aja,” yang sebenarnya sama sekali tidak berarti terserah.
Bagi kita yang sudah menikah, petuah rumah tangga mungkin bukan barang baru. Dari orang tua, ceramah pengajian, buku motivasi, sampai unggahan Facebook yang puitis bak pujangga. Semuanya seperti tidak pernah lelah mengajari cara menjadi suami atau istri yang baik.
Saya sendiri sudah enam tahun menikah. Belumlah terlalu lama memang, apalagi dibanding para sepuh yang usia pernikahannya sudah cukup untuk menghasilkan anak kuliahan, cucu, bahkan konflik warisan. Tapi enam tahun itu sudah cukup membuat saya paham bahwa pernikahan tidak selalu semanis foto prewedding.
Ada hari-hari ketika rumah terasa seperti surga kecil. Ada pula hari ketika suara sendok jatuh saja bisa terasa seperti kode dimulainya perang dingin.
Dari enam tahun itu, saya belajar bahwa pernikahan ternyata penuh hal di luar dugaan. Banyak asumsi sebelum menikah yang tumbang pelan-pelan seperti pagar kayu dimakan rayap. Dulu kita mengira cinta saja cukup. Ternyata tidak. Gas LPG juga penting!
