Opini

Bertahan Hidup Bersama Tetangga Bantal

Bertahan Hidup Bersama Tetangga Bantal

Hari ini saya kembali diingatkan tentang nasihat pernikahan. Kami diundang ke acara pernikahan anak salah seorang kawan seduduk pengajian.

Acaranya agak berbeda dari kebiasaan masyarakat Melayu Sambas pada umumnya. Biasanya, di hari pernikahan akan ada serakalan dengan syair-syair pujian yang menggema dari pengeras suara. Tapi kali ini, serakalan seperti mengambil cuti sehari. Diganti dengan tausiyah pernikahan. Dan anehnya, justru terasa lebih mengena.

Mungkin karena setelah menikah, orang tidak terlalu butuh teori tentang cinta. Kita lebih membutuhkan petunjuk bertahan hidup bersama manusia lain yang tidur bertetangga bantal, tapi kadang isi kepalanya lebih sulit ditebak daripada harga cabai.

Acara berlangsung di rumah mempelai perempuan. Seperti lazimnya di Sambas, para tamu duduk di tarup. Yakni tenda panjang dari kayu, bambu, papan, dan terpal yang kalau hujan deras bunyinya bisa kalah dramatis dari film laga. Sekarang tarup sudah lebih modern. Ada campuran besi dan kayu, bongkar-pasang, seperti hubungan sebagian orang yang praktis dibangun, praktis pula dibubarkan.