Di sanalah Ustadz Arwi Fauzi Asri menyampaikan nasihat tentang rumah tangga. Saya mendengar dan mencatatnya di gawai sambil meneguk air mineral tawar di gelas plastik tipis yang kadang berbunyi “kletek” saat diremas pelan. Rasanya sederhana sekali. Tapi justru di suasana sesederhana itu, nasihat-nasihat pernikahan terasa lebih jujur masuk ke kepala.
Nasihat itu berasal dari Umamah binti Al-Harits kepada anaknya, Ummu Iyas, pada hari pernikahannya.
Intinya bersahaja, tapi diam-diam menampar. Jadilah pasangan yang tahu cara merasa cukup dan bergaullah dengan penuh ketaatan. Jagalah penampilan dan kebersihan diri. Pahami waktu lapar dan lelah pasangan. Pandai mengatur harta. Menjaga kehormatan keluarga. Tidak membuka aib pasangan sendiri.
Kelihatannya biasa saja. Bahkan mungkin terlalu sering kita dengar. Tapi justru di situlah masalahnya.
Nasihat pernikahan sering kalah oleh ego harian. Kalah oleh nada bicara yang meninggi karena urusan sepele. Kalah oleh kebiasaan merasa paling benar. Padahal dalam rumah tangga, menang debat tidak selalu berarti menang kehidupan.
Kadang yang membuat rumah tetap utuh bukan karena dua orang selalu cocok, tapi karena keduanya masih mau belajar merendahkan kepala.
